- Kesalahan 1: Tidak Memiliki Tujuan yang Jelas
- Kesalahan 2: Desain yang Rumit dan Tidak User-Friendly
- Kesalahan 3: Tidak Optimasi untuk Mobile
- Kesalahan 4: Konten yang Buruk atau Tidak Relevan
- Kesalahan 5: Mengabaikan SEO
- Kesalahan 6: Keamanan Website yang Lemah
- Kesalahan 7: Tidak Ada Call-to-Action (CTA) yang Jelas
- Kesimpulan
Di era digital saat ini, memiliki website bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi setiap bisnis. Website menjadi “toko” pertama yang dilihat calon pelanggan sebelum mereka memutuskan untuk membeli produk atau menggunakan layanan Anda. Tanpa website yang profesional, bisnis bisa kehilangan peluang berharga hanya karena kesan pertama yang kurang meyakinkan.
Namun, penting untuk diingat bahwa website bukan hanya soal tampilan online. Lebih dari itu, website adalah aset strategis yang dapat mendukung branding, marketing, dan penjualan. Dengan website yang tepat, bisnis Anda bisa membangun citra profesional, menarik audiens yang relevan, serta memudahkan transaksi secara digital.
Sayangnya, banyak bisnis gagal memanfaatkan potensi website secara maksimal. Kesalahan mendasar—mulai dari desain yang buruk, navigasi yang membingungkan, hingga konten yang tidak relevan—sering kali menjadi penghambat utama. Akibatnya, website yang seharusnya menjadi alat pertumbuhan justru menjadi penghalang bagi perkembangan bisnis.
Oleh karena itu, memahami kesalahan umum dalam pembuatan website menjadi langkah awal yang penting agar bisnis Anda dapat memaksimalkan keuntungan dari kehadiran digital.
Kesalahan 1: Tidak Memiliki Tujuan yang Jelas
Banyak website bisnis dibuat hanya sekadar “ada” tanpa strategi yang jelas. Akibatnya, pengunjung tidak memahami tujuan website, sehingga website gagal menghasilkan traffic, leads, atau penjualan. Tanpa tujuan yang spesifik, segala upaya pembuatan konten, desain, dan promosi menjadi tidak terarah dan kurang efektif.
Cara Menghindari:
- Tetapkan tujuan spesifik sebelum membangun website, misalnya branding, penjualan produk, edukasi, atau lead generation.
- Rancang struktur website dan konten sesuai tujuan tersebut.
- Ukur keberhasilan melalui indikator yang jelas, seperti jumlah pengunjung, lead, atau transaksi.
Contoh / Studi Kasus:
Startup Edukasi: Sebuah startup edukasi awalnya membuat website informatif tanpa fokus. Setelah menetapkan tujuan lead generation, mereka menambahkan form pendaftaran trial dan konten edukatif yang menarik. Jumlah pendaftaran meningkat drastis, sesuai target awal.n arah yang tepat bukan hanya cantik secara tampilan, tetapi juga efektif dalam membantu bisnis tumbuh.
Website UMKM Lokal: Sebuah toko online awalnya hanya menampilkan produk tanpa strategi. Setelah menetapkan tujuan untuk meningkatkan penjualan, website diubah dengan halaman kategori yang jelas, CTA “Pesan Sekarang”, dan konten promosi yang relevan. Hasilnya, penjualan meningkat 35% dalam 2 bulan.
Kesalahan 2: Desain yang Rumit dan Tidak User-Friendly
Banyak website bisnis dibuat dengan tampilan yang terlalu penuh, navigasi yang membingungkan, dan loading halaman yang lambat. Penggunaan animasi berlebihan, banner yang saling tumpang tindih, atau tombol penting yang sulit ditemukan membuat pengunjung frustrasi.
Akibatnya, pengunjung cepat meninggalkan website (bounce rate tinggi), potensi konversi menurun, dan citra brand bisa terlihat kurang profesional.
Cara Menghindari:
- Gunakan desain sederhana dan rapi, fokus pada elemen yang benar-benar penting.
- Optimalkan navigasi agar pengunjung mudah menemukan informasi.
- Pastikan website mobile-friendly dan loading cepat.
Contoh / Studi Kasus:
- Toko Online Lokal: Sebuah toko online menampilkan halaman produk dengan banyak banner animasi dan menu tumpang tindih. Tombol “Beli Sekarang” sulit ditemukan. Setelah desain disederhanakan, navigasi diperjelas, dan tombol CTA dibuat lebih menonjol, konversi meningkat hingga 30%.
- Tokopedia: Mengutamakan desain bersih dan navigasi intuitif, sehingga pengguna mudah mencari kategori, memfilter produk, dan menemukan tombol “Beli”. Strategi ini menjaga bounce rate rendah dan pengalaman pengguna tetap nyaman.
- Bukalapak: Pada update desain terbaru, Bukalapak menekankan mobile-first design dan mengurangi elemen tidak penting, sehingga pengguna dapat menavigasi berbagai fitur marketplace dengan mudah melalui smartphone, meningkatkan kepuasan pengguna dan transaksi harian.
Kesalahan 3: Tidak Optimasi untuk Mobile
Mayoritas pengguna internet di Indonesia mengakses website melalui smartphone. Jika website Anda tidak responsif, tampilannya akan terlihat kacau di layar kecil, tombol sulit ditekan, teks sulit dibaca, dan navigasi membingungkan. Hal ini membuat pengunjung cepat meninggalkan website, meningkatkan bounce rate, dan menurunkan peluang konversi.
Cara Menghindari:
- Gunakan desain responsif yang menyesuaikan tampilan otomatis di berbagai ukuran layar.
- Uji website di berbagai perangkat, mulai dari smartphone, tablet, hingga laptop, untuk memastikan semua elemen tampil dengan baik.
- Perhatikan kecepatan loading di mobile, karena koneksi pengguna bisa berbeda-beda.
Contoh / Studi Kasus:
- Shopee: Website dan aplikasi Shopee dirancang mobile-first, dengan navigasi sederhana dan tombol besar yang mudah ditekan di layar kecil. Strategi ini membuat pengguna betah berbelanja lewat smartphone.
- Situs UMKM Lokal: Beberapa UMKM awalnya hanya menampilkan versi desktop di website mereka. Ketika dibuka lewat smartphone, tampilan berantakan dan tombol “Pesan” sulit diklik. Setelah diubah menjadi responsive, interaksi pengguna meningkat signifikan dan transaksi melalui mobile meningkat dua kali lipat.
Kesalahan 4: Konten yang Buruk atau Tidak Relevan
Banyak website bisnis hanya menampilkan informasi seadanya, bahasa terlalu teknis, atau tidak menyertakan ajakan bertindak (CTA) yang jelas. Akibatnya, pengunjung kesulitan memahami produk atau layanan Anda, tidak tertarik menjelajahi website, dan bisa kehilangan kepercayaan terhadap brand. Konten yang tidak relevan atau membingungkan membuat website tampak kurang profesional dan berpotensi menurunkan konversi.
Cara Menghindari:
- Buat konten yang relevan dengan kebutuhan audiens, sesuai dengan persona pengunjung.
- Gunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, hindari jargon teknis yang membingungkan.
- Sertakan CTA yang jelas, seperti “Hubungi Kami”, “Beli Sekarang”, atau “Daftar Gratis”.
- Update konten secara rutin agar tetap segar dan bermanfaat bagi pengunjung.
Contoh / Studi Kasus:
- Website UMKM Lokal: Sebuah toko kue awalnya hanya menampilkan daftar produk dengan deskripsi singkat “Kue enak, harga terjangkau.” Setelah menambahkan deskripsi lengkap, manfaat tiap produk, testimoni pelanggan, dan tombol “Pesan Sekarang”, tingkat konversi meningkat hingga 40%.
- Ruangguru: Konten edukasi di Ruangguru dirancang sesuai kebutuhan siswa dan mudah dipahami. Materi disertai contoh, video, dan CTA untuk latihan atau pendaftaran, sehingga engagement pengguna tinggi dan kepercayaan terhadap platform meningkat.
Kesalahan 5: Mengabaikan SEO
Banyak website bisnis dibuat tanpa memperhatikan optimasi mesin pencari (SEO). Akibatnya, website tidak muncul di halaman pertama Google, sehingga traffic organik rendah dan calon pelanggan sulit menemukan bisnis Anda. Tanpa SEO, seluruh usaha membangun website bisa sia-sia karena pengunjung hanya berasal dari iklan berbayar atau referral terbatas.
Cara Menghindari:
- Lakukan riset keyword untuk mengetahui kata kunci yang dicari audiens.
- Optimasi on-page, termasuk judul halaman, meta description, heading, dan URL.
- Buat konten berkualitas yang relevan dengan kebutuhan audiens dan mudah dibaca.
- Perhatikan kecepatan website, struktur internal linking, dan optimasi gambar.
Contoh / Studi Kasus:
- Vebora.id (Contoh Lokal): Awalnya hanya mengandalkan halaman utama tanpa optimasi SEO, sehingga hampir tidak muncul di pencarian Google. Setelah melakukan riset keyword, optimasi judul, meta, dan membuat artikel blog relevan, traffic organik meningkat signifikan dalam 3 bulan.
- Tokopedia & Bukalapak: Marketplace besar selalu fokus pada SEO untuk halaman produk. Produk yang dioptimasi dengan deskripsi lengkap, keyword relevan, dan gambar yang diatur alt-text bisa muncul di pencarian Google bahkan tanpa iklan, meningkatkan traffic dan penjualan secara organik.
Kesalahan 6: Keamanan Website yang Lemah
Keamanan website sering diabaikan, padahal ini sangat krusial. Banyak website bisnis tidak menggunakan SSL, jarang melakukan update plugin atau sistem, dan menggunakan hosting kurang terpercaya. Kondisi ini membuat website rawan diretas, kehilangan data penting, dan berisiko merusak reputasi bisnis. Pengunjung yang melihat website tidak aman atau sering error bisa kehilangan kepercayaan dan enggan melakukan transaksi.
Cara Menghindari:
- Gunakan SSL (HTTPS) agar data pengunjung aman dan meningkatkan kepercayaan.
- Lakukan update rutin pada CMS, plugin, dan tema untuk menutup celah keamanan.
- Pilih hosting yang terpercaya dengan proteksi keamanan yang baik.
- Gunakan backup berkala untuk memulihkan data jika terjadi masalah.
Contoh / Studi Kasus:
- Website UMKM Lokal: Sebuah toko online tidak menggunakan SSL, sehingga browser menampilkan peringatan “Not Secure”. Akibatnya, banyak pengunjung ragu melakukan pembayaran online. Setelah mengaktifkan SSL dan memperbarui sistem, tingkat kepercayaan dan transaksi meningkat.
- WordPress Sites: Situs WordPress yang jarang diupdate rentan terhadap serangan malware. Banyak kasus website bisnis kecil diretas karena plugin lama. Dengan update rutin dan backup berkala, risiko ini bisa diminimalkan dan bisnis tetap berjalan lancar.
Kesalahan 7: Tidak Ada Call-to-Action (CTA) yang Jelas
Banyak website bisnis hanya menampilkan informasi tanpa memberi arahan tindakan yang jelas bagi pengunjung. Akibatnya, pengunjung bingung harus melakukan apa, sehingga tidak melakukan pembelian, mendaftar, atau menghubungi bisnis Anda. Kurangnya CTA yang menonjol membuat website kurang efektif dalam mengubah pengunjung menjadi pelanggan.
Cara Menghindari:
- Letakkan CTA yang jelas di setiap halaman, misalnya “Hubungi Kami”, “Beli Sekarang”, atau “Daftar Gratis”.
- Gunakan desain tombol yang kontras dan mudah ditemukan.
- Sesuaikan CTA dengan konteks halaman agar relevan dengan kebutuhan pengunjung.
- Uji berbagai posisi dan kata-kata CTA untuk menemukan yang paling efektif.
Contoh / Studi Kasus:
- Website UMKM Lokal: Awalnya hanya menampilkan daftar produk tanpa tombol “Pesan Sekarang”. Setelah menambahkan CTA yang jelas di tiap halaman produk, konversi meningkat hampir dua kali lipat.
- Shopee & Tokopedia: Tombol “Beli Sekarang” atau “Tambahkan ke Keranjang” selalu terlihat jelas di halaman produk, memudahkan pengguna melakukan tindakan langsung dan meningkatkan penjualan.
Kesimpulan
Membangun website bisnis bukan sekadar soal tampilan atau desain, tetapi membutuhkan strategi menyeluruh yang memperhatikan pengalaman pengguna, konten, SEO, keamanan, dan konversi. Dengan menghindari tujuh kesalahan umum yang telah dibahas—mulai dari desain rumit, tidak mobile-friendly, konten buruk, hingga kurangnya CTA—website Anda dapat berfungsi sebagai mesin penggerak bisnis yang efektif.
Poin Penting:
- Website harus user-friendly, cepat, dan responsif di berbagai perangkat.
- Konten harus relevan, jelas, dan mendukung tujuan bisnis.
- Optimasi SEO penting untuk menarik traffic organik.
- Keamanan dan proteksi data harus selalu dijaga.
- CTA yang jelas meningkatkan konversi dan memandu pengunjung melakukan tindakan.







